Masih dengan pasang tampang cemberut,aku nunggu Xion dengan melototin pintu kelas.Sengaja sih emang datang paling pagi,bagaimanapun ketidak sengajaanku telah benar-benar membuatku penasaran.Kepastiannya pasti akan kudapatkan hari ini!
Akhirnya dia datang,masih dengan tampang “sok sucinya”.Dari waktu jam pertama,kulihat gerak-geriknya.Tapi tetap saja,kelihatannya dia bukan cowok jahat.Waktu yang kuincar,waktu isirahat datang .Kusamperin langsung aja dah.
“Via,ke kantin yuk?”ajak Zelia.”em,maaf ya aku mau ke Xion.Ada hal penting.”jawabku sambil senyum.”P-pe-penting?okelah kami ngerti”jawab Zelia yang entah kenapa langsung narik Renzi dan Alice keluar.
Dia berdiri dari tempat duduknya “Maaf,aku ada urusan.Permisi”.Emosiku akhirnya muncak,langsung kutarik tangannya.”kau tak akan kubiarkan pergi,sialan!!”Xion hanya melihatku saja.
(sementara itu di luar kelas)
“Ada apa seh harus ngumpet segala?”tanya Ren.”Lihat tuh,Via mau nembak Xion,pake’ pegang tangan.Romantis-nya”Zelia jawab penuh semangat.Tiba-tiba kaca kelas penuh dengan wajah anak-anak ngintip secara sembunyi(kata pengarang)[emangnya kalau sembunyi wajahnya keliatan by comment](udah bacot,durasi!!)
(kembali ke kelas)
“Ada perlu apa,nona?”tanya Xion.”Kemarin,tepatnya setelah pulang sekolah.Apa kau ada di taman kota?”jawabku penasaran.Dia menarik nafas panjang,lalu dijawab”apa ini ada kaitannya tentang pembunuhan massal yang keluar di koran hari?”.Aku tak menjawab,hanya kupandangi dia.”Mau bermain detektif ya?”kata Xion dengan senyum sinisnya.Gigiku gemeretak,langsung kujawab dengan nada keras”Berhenti main-main.Jawab hanya dengan iya atau tidak,tak perlu berputar-putar!!!”.”Secara tidak langsung kau sudah menuduhku.Periksa saja isi tasku,jika ada yang bisa kau anggap bukti.Bawa aku ke tempat polisi sekarang”jawaban santainya kembali keluar.Aku tidak terlalu yakin ada bukti tersebut di tasnya,kalaupun tak ada aku kelihatannya masih bisa tanya padanya.Kelihatannya saja dia masih mau meladeniku.Ku acak-acak tasnya yang hanya berisi beberapa buku tanpa isi yang terlalu penting.Darahku makin mendidih begitu tak kutemukan apa yang kucari.Melihat aku yang kelihatan tambah mendidih,Xion langsung berkata”Datanglah ketempatku nanti,jika kau masih tidak percaya padaku.Tetapi sekarang aku ada perlu.Permisi”
Kulihat orang itu dengan tambah penasaran.Setelah Xion menghilang dibalik pintu,teman-teman langsung mengerumuniku.”Gimana jawabnya?Dia bilang apa?Gimana responnya?”tanya semua teman-teman.Kebingungan!Aku langsung ditarik oleh seseorang,Alice ternyata.”Xion,dia bilang apa Via?”Tanya Alice.Apa teman-teman tau kalau Xion itu pembunuh,fikirku.”Ah tidak,dia nggak mau bilang.Dia malah ngajak aku ke tempatnya.”jawabku mencoba tenang.”Aaaaappppppaaa!!”jawab mereka bertiga serempak.Aku jadi tambah bingung,soalnya tiba-tiba mereka bisik-bisik sendiri.
{“Eh se-serius itukah hubungan mereka”bisik Alice.”Aku juga kurang tau,tapi kan barusan kenal?”bisik Renzi.”Tidak menutup kemungkinan memang,tetapi…..”bisik Zelia.}(by pengarang)
“Alice,sebagai keamanan.Kami akan ikut bersamamu,kita juga akan mengajak Yunzo”kata Zelia.”ehhhhhh!!”teriakku.Mereka mau bertaruh nyawa hanya untuk menjagaku?Air mataku hampir keluar karna pikiran tersebut,tepat saat bel berbunyi………
Diary,aku bahagia punya teman sebaik mereka.Tetapi aku tidak akan mampu kehilangan mereka.Xion terlalu berbahaya.Apa yang harus kulakukan?
Setelah aku pulang dari ganti baju dan makan,aku kembali ke sekolah.Xion telah menunggu di gerbang.”Ayo berangkat,nona”sapa dia.Tanpa basa basi,kuikuti dia dari belakang.Tanpa tahu bahwa teman-teman mengikuti juga,(hanya penulis yang tahu)